Senin, 03 Agustus 2020

Puisi ; Sekejap

  SEKEJAP
               Karya : Wike Astaria

Semilir angin menerpa sunyi
Kabut kelam bernaung menutup awan
Kelabu hati, membeku tiada henti
Seolah tahu akan kalutnya perasaan

Disisi luar kuterpaku membisu
Melihat jalanan desa,
Jiwa demi jiwa berlalu lalang tanpa sepi
Tapi kalbu, hampa dan mati rasa

Entah apa yang ada di benakku
Padamnya lampu di desa,
Seakan mendukung beragam kesedihan dan kepedihan
Bahwa aku kan pergi

Lihat! Semesta pun sedang bersaksi
Menjadi saksi bisu mulanya perjuanganku
Aku kan pergi,
Namun pergi, hanya untuk kembali.

        Muara Lawai, 3 Agustus 2020


Minggu, 29 September 2019

Puisi ; Serpihan Luka



SERPIHAN LUKA
Karya : Wike Astaria


Hilang, saat belum sempat tergenggam
Sirna, dengan adanya keterpaksaan
Lenyap dan memudar tanpa sebab
Hingga berakhir tragis, dengan peristiwa menyayat hati

Menyebalkan !
Kadang dunia serumit ini
Menjadikanku tahanan yang membisu
Di ruang hampa, dengan rasa yang menyiksa

Bungkam...
Entah apa yang kurasa
Ku pikir, hatiku baik-baik saja
Nyatanya, koma tak berasa

Kau bilang, aku tak punya hati
Kau pikir, jiwaku sedang baik-baik saja
Pantaskah ucapanmu itu ?
Sakit hati ini, 
membuat jiwaku tak lagi menggebu, melainkan sudah berdebu
Dan tanpa kehadiranmu, aku sekarat dan berkarat !

Muara Lawai, 29 September 2019


Kamis, 26 September 2019

Puisi ; Pecandu Senyum



PECANDU SENYUM
Karya : Wike Astaria

Ukiran indah dengan lengkung di bibirmu
Manis wajahmu, tak pudar dalam benakku
Bola matamu yang sontak mengecil
Alih-alih, kau tersenyum manawan

Getir langkahku terhenti pada ruang imajinasi
Membawa nalar, lenyap tak berasumsi
Tergantikan dengan sejuta ambang ilusi
Hingga hasratku liar, tak dapat ditolong

Kamu, 
Pelukis indah di wajahku
Adakah mukjizat yang menyatukan kita ?
Aku disini, pecandu senyummu.

Muara Lawai, 18 Maret 2019

Puisi ; Nestapa Menikam



NESTAPA MENIKAM
Karya : Wike Astaria

Jamahan rindu di dalam mimpi
Tersentak sesak gejolak batin
Rindu menjelma, sesaat kelabu tiba
Berkecamuk, di relung kalbu

Semu dan hampa
Bekas yang kau tinggalkan
Perihal membenci ?
Cukup bodoh dalam hal itu

Hikayat rinduku, tak semudah bayanganmu
Gaib, namun setia di benakku
Sayatan pada kalbu, tawar tak terasa
Karena aku, merindukamu.


Muara Lawai, 18 Maret 2019

Puisi ; Ambisi dalam Ilusi



AMBISI DALAM ILUSI
Karya : Wike Astaria

Hasrat yang kini terbuai bersama ilusi
Menyapa tanpa henti di ujung sepi
Ambigu keluar dengan nalar yang tak pernag usai
Hingga logika, tak pernah berasumsi

Kala itu, 
Sempat terpikir untuk berhenti
Dari rangkaian ilusi naif
Karena ku tahu,
Ilusi takkan pernah bertepi
Dan mengambang bila kubiarkan

Berharap ilusi kan segera berakhir
Menghindar dari jurang imajinasi
Mencoba bangkit dari genggaman ilusi
Tanpa hasrat yang pasti,
Mencari titik konflik ini


Muara Lawai, 28 Desember 2018


Puisi ; Ada Apa dengan Topengmu ?



ADA APA DENGAN TOPENGMU ?
Karya : Wike Astaria

Hei penikam !
Apalagi yang kau inginkan ?
Kebahagiaanku kau rampas
Dan mangsamu telah kau terkam

Samaranmu cukup menarik
Tak pernah terpungkiri
Topengmu indah, layaknya seorang penikam tak kasat mata
Dan menjelma anggun, nyatanya sampah !

Inikah arti sahabat ?
Tak pernah paham dengan hatimu
Disangka tulus, tapi otakmu bulus
Sudahi, cukup bertemankan bajingan sepertimu !

Hei kawan tikam belakang !
Istilah apa yang pantas untukmu ?
Layak kah disebut sahabat ? Tidak !
Dasar, penghianat bertopengkan malaikat !


Muara Lawai, 26 September 2019




Puisi ; Apa yang Salah ?


APA YANG SALAH ?
Karya : Wike Astaria

Gendang telinga dipenuhi omong kosong belaka
Dada sesak menahan kobaran amarah yang membara
Lalu lantak pikiran pening oleh emosi berbumbu racikan api
Dan kalbu, pamit sekejap meninggalkan jiwa

Emosi meluap tak tertahan
Tikaman keji oleh sang durja yang hilang akal
Melampiaskan pada sorang berparas ambigu
Hingga lunglai tersungkur di dasar tanah

Apa yang menjadikannya bagai tahanan yang kan kau bunuh ?
Kau beri gaun merah padanya
Kau pakaikan make up beralaskan merah darah
Benarkah nuranimu telah hilang ?
Tidak ! Aku sedang mengatasnamakan
Bakwa kau... seorang penghianat !


Muara Lawai, 4 Februari 2019